TUA0TfC6GSG5GSr9GUOpTpY6TY==

Media Sosial dan Normalisasi FOMO pada Gen Z

Media Sosial dan Normalisasi FOMO pada Gen Z. Pexels.com

Surabaya, Jawa Timur - Jumat, 19 Desember 2025 - Media sosial telah menjadi ruang utama interaksi Generasi Z. Dari bangun tidur hingga menjelang tidur kembali, notifikasi Instagram, TikTok, dan X nyaris tak pernah lepas dari genggaman. Di balik kemudahan berbagi dan memperoleh informasi tersebut, muncul fenomena FOMO (Fear of Missing Out), yaitu rasa takut tertinggal tren atau pengalaman penting, yang kini bukan sekadar gejala psikologis tetapi telah menjadi bagian dari gaya hidup Gen Z.

FOMO awalnya dipahami sebagai kecemasan ketika seseorang merasa orang lain mengalami pengalaman yang lebih menarik darinya. Namun, dalam konteks media sosial, perasaan ini diproduksi dan dipertahankan oleh algoritma yang secara aktif menampilkan konten viral, tren terbaru, serta gaya hidup ideal yang terus berulang. Tanpa disadari, Gen Z didorong untuk terus terhubung dan berpartisipasi agar tidak dianggap ketinggalan zaman.

Kondisi ini didukung oleh berbagai studi akademik. Penelitian kualitatif menunjukkan bahwa media sosial, terutama TikTok, memperkuat FOMO dengan menampilkan konten yang cepat viral sehingga pengguna terdorong untuk mengikuti tren digital demi menunjukkan keterlibatan dalam komunitas sosialnya. Hal ini memengaruhi durasi penggunaan media sosial dan menekan interaksi sosial secara langsung di dunia nyata. 

Selain itu, kajian lain menemukan bahwa fenomena FOMO berkontribusi pada perilaku konsumtif impulsif di kalangan Gen Z, terutama ketika konten digital mendorong pembelian produk viral. FOMO memiliki hubungan signifikan dengan keputusan pembelian yang didorong oleh keinginan untuk tidak merasa ketinggalan dari orang lain. 

Penelitian akademik juga mencatat bahwa FOMO berdampak terhadap kesehatan mental. Kajian literatur sistematis menunjukkan bahwa intensitas penggunaan media sosial pada Gen Z berhubungan kuat dengan munculnya FOMO, yang selanjutnya berhubungan dengan meningkatnya kecemasan dan tekanan psikologis

Normalisasi FOMO terlihat jelas dalam keseharian Gen Z. Mengikuti tren fashion terbaru, mencoba tempat nongkrong yang sedang viral, atau membeli produk yang sedang ramai diperbincangkan sering dilakukan bukan atas kebutuhan, melainkan demi eksistensi sosial. Media sosial membangun standar tak tertulis bahwa menjadi “relevan” berarti hadir dalam tren. Akibatnya, pilihan hidup sering kali tidak lagi didasarkan pada preferensi personal, melainkan pada validasi digital berupa likes, views, dan komentar.

Lebih jauh lagi, FOMO juga berkaitan dengan dampak psikologis yang lebih luas. Dengan terpapar konten yang intens, Gen Z rentan mengalami kecemasan sosial dan tekanan internal untuk mengikuti standar sosial yang diproyeksikan melalui layar. Ketika pencapaian, kebahagiaan, dan kesuksesan diukur dari apa yang tampak di feed, FOMO berubah dari sekadar fenomena psikologis menjadi norma sosial dalam interaksi digital.

Namun, menyalahkan Gen Z sepenuhnya tentu tidak adil. Media sosial dirancang untuk mempertahankan perhatian penggunanya selama mungkin. Algoritma bekerja dengan logika keterlibatan, bukan kesehatan mental. Dalam sistem seperti ini, FOMO bukan sekadar kelemahan individu, melainkan hasil dari ekosistem digital yang menormalisasi kecepatan, perbandingan sosial, dan pencarian validasi instan.

Karenanya, solusi atas fenomena ini tidak cukup dengan sekadar mengkritik penggunaan media sosial. Gen Z perlu dibekali kemampuan literasi digital yang kuat, kemampuan untuk menyadari bahwa tidak semua yang viral harus diikuti, serta membedakan antara kebutuhan personal dan tekanan sosial yang dihasilkan oleh media digital. Kesadaran kritis menjadi kunci agar media sosial kembali menjadi alat yang bermanfaat, bukan mekanisme penentu nilai diri.

Langkah praktis yang dapat diambil tidak berhenti pada kesadaran semata, tetapi perlu diwujudkan dalam tindakan nyata, seperti membatasi konsumsi konten yang bersifat berulang dan memicu perbandingan sosial, memilih platform digital secara lebih selektif sesuai kebutuhan, serta secara sadar menyediakan ruang jeda dari interaksi digital yang berlebihan. Upaya-upaya ini penting agar Gen Z mampu memposisikan diri sebagai pengguna aktif yang mengendalikan media sosial, bukan sekadar menjadi objek arus informasi. Dengan pendekatan tersebut, Gen Z tidak hanya dapat merespons tren secara lebih kritis dan cerdas, tetapi juga menjaga kesejahteraan mentalnya di tengah derasnya informasi dan tuntutan eksistensi di ruang digital.

Pada akhirnya, tantangan terbesar bukanlah bagaimana menghindari media sosial, melainkan bagaimana menggunakannya dengan sadar tanpa kehilangan kendali atas kesejahteraan pribadi. Normalisasi FOMO hanya dapat dilawan dengan menormalisasi kesadaran bahwa tertinggal tren bukanlah kegagalan hidup. Gen Z perlu diyakinkan bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh kecepatan mengikuti arus, melainkan oleh kesadaran memilih arah hidup yang lebih bermakna.

Kholifatus Sa’diyah 1152500219 Logic and Critical Thinking

Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Widiyatmo Ekoputro

Untuk Memenuhi Tugas Evaluasi Akhir Semester Mata Kuliah Logic and Critical Tihinking

Type above and press Enter to search.

🔮 Zodiak Hari Ini

Ramalan Zodiak